Masjid Agung Al-Falah merupakan masjid terbesar di Jambi, Indonesia. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid 1000 Tiang,
meskipun jumlah tiangnya hanya 256 buah. Lokasi di mana Masjid Agung
ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada
tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan
dan benteng Belanda. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan sejarawan
Jambi, Junaidi T Nur, bahwa Mesjid Agung Al falah ini berdiri di lahan
bekas Istana Tanah Pilih dari Sultan Thaha Syaifudin.
Alamat; Jl. Sultan Thaha No.60 Legok, Telanaipura
|
Pada
tahun 1858, Saat terpilih menjadi sultan di kesultanan Jambi, Sultan
Thaha Syaifudin membatalkan semua perjanjian yang dibuat Belanda dengan
mendiang ayahandanya, karena perjanjian tersebut sangat merugikan
kesultanan Jambi. Saat itu, Balanda sangat marah dan mengancam akan
menyerang Istana.
Namun
Sultan Thaha justru lebih dulu menyerang pos Belanda di daerah Kumpe.
Pasukan Belanda melakukan serangan balasan dan membumi hanguskan komplek
Istana Tanah Pilih. Tahun 1906 lokasi bekas istana sultan tersebut
dijadikan asrama tentara Belanda yang digunakan sebagai tempat
pemerintahan Keresidenan. Di era kemerdekaan sampai tahun 1970an lokasi
tersebut masih difungsikan sebagai asrama TNI di Jambi.
Pada
awalnya gagasan pembangunan Masjid Agung sudah mengemuka tahun 1960-an
oleh pemerintah Jambi, beserta tokoh tokoh Islam Jambi. Namun, proses
pembangunan masjid baru dimulai tahun 1971. Para alim ulama dan tokoh
tokoh Jambi diantaranya M.O. Bafaddal, H Hanafi, Nurdin Hamzah, dan
gubernur saat itu (Tambunan atau Nur Admadibrata ) Sepakat untuk
membangun masjid agung di lokasi tersebut dan dan merelokasi asrama TNI.
Salah satu alasan kenapa masjid yang dibangun di lokasi bersejarah
tersebut adalah mengacu pada lambang Jambi yang terdapat gambar Masjid.
Masjid Agung Al-falah kota Jambi diresmikan penggunaannya oleh presiden
Soeharto pada tanggal 29 September 1980.
Masjid
kebanggaan warga Jambi ini berdiri diatas lahan seluas lebih dari
26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar, sedangkan luas bangunan masjid
adalah 6.400 M2 dengan ukuran 80m x 80m, dan mampu menampung 10 ribu
jamaah sekaligus. Sedari awal bangunan Masjid Agung hingga sekarang
tetap dipertahankan sesuai bentuk awalnya. Kalaupun ada renovasi hanya
penambahan ukiran pada mihrab imam, tanpa merombak bentuk awal Masjid.
dan mengganti pembungkus tiang di tahun 2008.
Masjid
agung Al-Falah kota Jambi dibangun lengkap dengan kubah besar dan
menara yang menjulang. Keseluruhan bangunan masjid menggunakan material
beton bertulang. Bila dipandang sepintas lalu, jejeran tiang tiang
masjid berwarna putih yang ramping di masjid ini memiliki kemiripan
dengan tiang tiang masjid agung kota Roma, Italia yang dibangun jauh
lebih belakangan dibanding dengan masjid Al-Falah di Jambi ini.
Jejeran
ratusan tiang di masjid Al-Falah ini terbagi dua bentuk. Bentuk pertama
merupakan tiang tiang lansing bewarna putih dengan tiga sulur ke atas
menyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar. Dan bentuk tiang kedua
berupa tiang tiang silinder berbalut tembaga menopang struktur kubah di
area tengah bangunan masjid. penggunaan material tembaga untuk menutup
tiang tiang silinder ini memberikan kesan antik namun megah pada
interior masjid Al-Falah.
Di
rancang sebagai bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, benar benar
sejalan dengan nama masjid ini. Al-Falah dalam bahasa arab bila di
Indonesiakan menjadi Kemenangan, menang bermakna memiliki kebebasan
tanpa kungkungan, mungkin filosofi itu juga yang menjadi dasar
dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka. Agar muslim manapun bebas
masuk dan melaksanakan ibadah di masjid ini.
Sementara
bagian dalam kubah di hias dengan ornamen garis garis simetris mirip
dengan garis garis lintang dan garis bujur bola bumi. Ring besar di
bawah kubah di hias dengan lukisan kaligrafi Al-Qur’an bewarna emas.
Sebuah lampu gantung berukuran sangat besar berbahan tembaga memperindah
tampilan ruang di bawah kubah.
Keterangan:
ID Masjid
| : | 01.1.05.10.01.000001 | |
|---|---|---|
| Luas Tanah | : | 27.000 m2 |
| Status Tanah | : | SHM |
| Luas Bangunan | : | 6400 m2 |
| Tahun Berdiri | : | 1971 |
| Daya Tampung Jamaah | : | 10.000 |
| Fasilitas | : | Parkir, Taman, Gudang, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Aula Serba Guna, Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Koperasi, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah |
| Kegiatan | : | Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan kegiatan sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu |
Masjid Agung Al-Falah merupakan masjid terbesar di Jambi, Indonesia. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid 1000 Tiang,
meskipun jumlah tiangnya hanya 256 buah. Lokasi di mana Masjid Agung
ini berdiri, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada
tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan
dan benteng Belanda. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan sejarawan
Jambi, Junaidi T Nur, bahwa Mesjid Agung Al falah ini berdiri di lahan
bekas Istana Tanah Pilih dari Sultan Thaha Syaifudin.
Alamat; Jl. Sultan Thaha No.60 Legok, Telanaipura
|
Pada
tahun 1858, Saat terpilih menjadi sultan di kesultanan Jambi, Sultan
Thaha Syaifudin membatalkan semua perjanjian yang dibuat Belanda dengan
mendiang ayahandanya, karena perjanjian tersebut sangat merugikan
kesultanan Jambi. Saat itu, Balanda sangat marah dan mengancam akan
menyerang Istana.
Namun
Sultan Thaha justru lebih dulu menyerang pos Belanda di daerah Kumpe.
Pasukan Belanda melakukan serangan balasan dan membumi hanguskan komplek
Istana Tanah Pilih. Tahun 1906 lokasi bekas istana sultan tersebut
dijadikan asrama tentara Belanda yang digunakan sebagai tempat
pemerintahan Keresidenan. Di era kemerdekaan sampai tahun 1970an lokasi
tersebut masih difungsikan sebagai asrama TNI di Jambi.
Pada
awalnya gagasan pembangunan Masjid Agung sudah mengemuka tahun 1960-an
oleh pemerintah Jambi, beserta tokoh tokoh Islam Jambi. Namun, proses
pembangunan masjid baru dimulai tahun 1971. Para alim ulama dan tokoh
tokoh Jambi diantaranya M.O. Bafaddal, H Hanafi, Nurdin Hamzah, dan
gubernur saat itu (Tambunan atau Nur Admadibrata ) Sepakat untuk
membangun masjid agung di lokasi tersebut dan dan merelokasi asrama TNI.
Salah satu alasan kenapa masjid yang dibangun di lokasi bersejarah
tersebut adalah mengacu pada lambang Jambi yang terdapat gambar Masjid.
Masjid Agung Al-falah kota Jambi diresmikan penggunaannya oleh presiden
Soeharto pada tanggal 29 September 1980.
Masjid
kebanggaan warga Jambi ini berdiri diatas lahan seluas lebih dari
26.890 M2 atau lebih dari 2,7 Hektar, sedangkan luas bangunan masjid
adalah 6.400 M2 dengan ukuran 80m x 80m, dan mampu menampung 10 ribu
jamaah sekaligus. Sedari awal bangunan Masjid Agung hingga sekarang
tetap dipertahankan sesuai bentuk awalnya. Kalaupun ada renovasi hanya
penambahan ukiran pada mihrab imam, tanpa merombak bentuk awal Masjid.
dan mengganti pembungkus tiang di tahun 2008.
Masjid
agung Al-Falah kota Jambi dibangun lengkap dengan kubah besar dan
menara yang menjulang. Keseluruhan bangunan masjid menggunakan material
beton bertulang. Bila dipandang sepintas lalu, jejeran tiang tiang
masjid berwarna putih yang ramping di masjid ini memiliki kemiripan
dengan tiang tiang masjid agung kota Roma, Italia yang dibangun jauh
lebih belakangan dibanding dengan masjid Al-Falah di Jambi ini.
Jejeran
ratusan tiang di masjid Al-Falah ini terbagi dua bentuk. Bentuk pertama
merupakan tiang tiang lansing bewarna putih dengan tiga sulur ke atas
menyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar. Dan bentuk tiang kedua
berupa tiang tiang silinder berbalut tembaga menopang struktur kubah di
area tengah bangunan masjid. penggunaan material tembaga untuk menutup
tiang tiang silinder ini memberikan kesan antik namun megah pada
interior masjid Al-Falah.
Di
rancang sebagai bangunan terbuka tanpa pintu dan jendela, benar benar
sejalan dengan nama masjid ini. Al-Falah dalam bahasa arab bila di
Indonesiakan menjadi Kemenangan, menang bermakna memiliki kebebasan
tanpa kungkungan, mungkin filosofi itu juga yang menjadi dasar
dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka. Agar muslim manapun bebas
masuk dan melaksanakan ibadah di masjid ini.
Sementara
bagian dalam kubah di hias dengan ornamen garis garis simetris mirip
dengan garis garis lintang dan garis bujur bola bumi. Ring besar di
bawah kubah di hias dengan lukisan kaligrafi Al-Qur’an bewarna emas.
Sebuah lampu gantung berukuran sangat besar berbahan tembaga memperindah
tampilan ruang di bawah kubah.
Keterangan:
ID Masjid
| : | 01.1.05.10.01.000001 | |
|---|---|---|
| Luas Tanah | : | 27.000 m2 |
| Status Tanah | : | SHM |
| Luas Bangunan | : | 6400 m2 |
| Tahun Berdiri | : | 1971 |
| Daya Tampung Jamaah | : | 10.000 |
| Fasilitas | : | Parkir, Taman, Gudang, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Aula Serba Guna, Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Koperasi, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah |
| Kegiatan | : | Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan kegiatan sosial ekonomi (koperasi masjid), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu |

0 Response to "Masjid Agung Al-Falah Jambi"
Posting Komentar